L A P O R A N
PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
PDGK4407
MODUL 4 & 5
“Pendidikan Anak Tunanetra &
Pendidikan Anak Tunarungu Dan Anak Dengan Gangguan
Komunikasi”
Oleh :
Ardian Noerman Renggana
Betari Dwi Arniza
Hendi
Inna Suryanti
Ratika Puspita Dewi
PROGRAM
STUDI S-1 PGSD
UNIT
PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH KOTA BOGOR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS
TERBUKA
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Pendidikan Anak Tunanetra
& Pendidikan anak Tunarungu dan Anak dengan Gangguan Komunikasi”.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai
akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin
Bogor, Oktober 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu
mengalami perkembangan normal.Banyak di antara mereka yang dalam
perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki
faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan
penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal
sebagai anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa.
Dalam memahami
anak berkebutuhan khusus atau anak luara biasa, sangat diperlukan adanya
pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan (anak berkebutuhan khusus) dan
akibat-akibat yang terjadi pada penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut
sebagai anak yang cacat dikarenakan mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan
perkembangannya mengalami penyimpangan atau kelainan, baik dari segi fisik,
mental, emosi, serta sosialnya bila dibandingkan dengan nak yang normal.
Karakteristik spesifik anak berkebutuhan khusus pada
umumnya berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional. Karakteristik
spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan sensorik motor, kognitif,
kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi
social, serta kreatifitasnya.Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta
didik berkebutuhan khusus, akan memerlukan kemampuan khusus guru. Guru dituntut
memiliki kemampuan beraitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat
setiap anak dalam beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan
berpikir, melihat, mendengar, berbicara, dan cara besosialisasikan. Hal-hal
tersebut diarahkan pada keberhasilan dari
tujuan akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah pendewasaan.
B.
Tujuan
1.
Pengertian,klasifikasi,
penyebab serta cara pencegahan terjadinya ketunanetraan
2.
Menjelaskan
dampak ketunanetraan
3.
Menjelaskan
layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak tunanetra
4.
Menjelaskan
definisi,klasifikasi, penyebab dan cara pencegahan terjadinya tunarungu
5.
Menjelaskan
dampak tunarungu dan gangguan komunikasi
6.
Menjelaskan keb
khusus dan layanan pendidikan anak tunarungu
BAB II
PEMBAHASAN
MODUL 4
PENDIDIKAN ANAK
TUNANETRA
Kegiatan Belajar
1
Pengertian,klasifikasi,
Penyebab Serta Cara Pencegahan Terjadinya Ketunanetraan
A.
Definisi dan
Klasifikasi Tunanetra
1.
Definisi legal
berdasarkan Peraturan Perundang Undangan
Digunakan
pada profesi Medis untuk menentukan apakah seseorang berhak memperoleh akses
keuntungan tertentu seperti : asuransi tertentu, bebas bea transportasi dan
untuk menentukan perangkat alat bantu yang sesuai dengan kebutuhannya. Ada 2
aspek yang diukur :
a.
ketajaman
penglihatan
b.
medan pandang
Cara yang paling umum untuk mengukur ketajaman mata
dengan Kartu Snelen yg terdiri dari
huruf huruf atau angka angka yang tersusun berbaris berdasarkan ukuran
besarnya. Klasifikasi ketajaman penglihatan menurut WHO:
Mata normal : 6/6 hingga 6/18
Mata normal : 6/6 hingga 6/18
Mata kurang awas :
<6/18 hingga >3/60
Buta :
<3/60
2.
Definisi
Edukasional/Fungsional
Secara
edukasional, seseorang dikatakan tunanetra apabila untuk kegiatan pembelajaran
dia memerlukan alat bantu khusus, metode khusus atau teknik tertentu sehingga
dia dapat belajar
Klasifikasi
Ketunanetraan:
1.
Klasifikasi
berdasarkan waktu
a. Tunanetra sebelum dan sejak lahir
b. Tunanetra setelah lahir dan atau pada usia kecil
c. Tunenatra pada usia sekolah atau pada masa remaja
d. Tunanetra pada usia dewasa
e. Tunanetra dalam usia lajut.
2.
Berdasarkan kemampuan
daya penglihatan:
a.
Tunanetra ringan
b.
Tunanetra
setengah berat.
c.
Tunanetra berat.
3.
Berdasarkan
kelainan-kelainan pada mata
a.
Myopia, adalah
penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina.
b.
Hyperopia,
adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan
retina.
c.
Astigmatisme,
adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan karena ketidak
beresan pada kornea mata.
B.
Penyebab
Terjadinya Tunanetra
1.
Albinisme
Penyebabnya
kekurangan pigmen
a. Penglihatan buruk
b. Retinanya tdk sempurna
c. Terlalu peka terhadap cahaya
d. Matanya terus menerus berkedip
2.
Ambiyopia
Penyebabnya
bawaan dari lahir atau bisa berkembang kemudian
3.
Buta Warna
Penyebabnya
bisa dari keturunan, keracunan atau penyakit retina
4.
Cedera dan
radiasi
Perlu
pelindung mata pada saat bekerja :
Tukang
las, Karyawan pabrik , Petugas foto sinar X pada laboratorium
5.
Devisiensi
Vitamin A
kekurangan
vit A yg akut menyebabkan (Xerophtalmia )
6.
Glaukoma
Cairan
pada bagian depan mata tidak mengalir ke luar.
Gejala
: Sering salah lihat, Perut mual
7.
Katarak
Penderita
katarak akan mengalami pengelihatan yang buram, ketajaman pengelihatan
berkurang, sensitivitas kontras juga hilang, sehingga kontur, warna bayangan
dan visi kurang jelas karena cahaya tersebar oleh katarak ke mata.
8.
Kelainan Mata
Bawaan
Yaitu
kelainan mata yang berasal dari bawaan lahir:
a. Anirida : tidak ada iris
b. Microphthalmos : mata yg sangat kecil
c. Megalophthalmos : mata yg sangat besar dari lahir
d. Anophthalmos : tidak ada bola mata
e. Coloboma : retakan/celah pada iris
9.
Myopia
Mata
Myopia adalah cacat mata tidak bisa melihat jauh, hal ini karena bayangan jatuh
pada depan retaina. Dapat ditolong dng kaca mata minus
10. Mistagmus
Yaitu
gerakan mata yang menghentak hentak / gerakan bola mata yg cepat tanpa
disengaja (di luar kemampuan)
11. Ophthalmia neonatorum
Yaitu
peradangan pada mata bayi yang baru lahir. Penyakit ini merupakan penyebab umum
ketunanetraan Penyakit ini bukan turunan, disebabkan oleh bakteri dari rongga
rahim ibu ke dalam mata bayi.
12. Penyakit Kornea
Kornea
mata merupakan bagian mata yg terdepan berfungsi sbg selaput jendela dan
pelindung tempat lewatnya sinar. Bila kornea mata rusak dapat dilakukan
pertolongan dengan pencakokan kornea mata
13. Retinitis Pigmentosa
Retinitis
pigmentosa adalah sederetan penyakit yang diwariskan secara genetik. Salah satu ciri dari penyakit ini adalah degenerasi retina mata.
Indikasi penyakit tersebut pada awalnya adalah kesulitan melihat dengan jelas
pada kondisi pencahayaan yang kurang terang
(temaram). Gejala ini akan berlanjut dengan penyempitan jarak
pandang
hingga puncaknya adalah terjadi kebutaan pada usia paruh baya.
14. Retinopati Diabetika
Retinopati
diabetik merupakan komplikasi kronis diabetes melitus berupa mikroangiopati
progresif yang ditandai oleh kerusakan mikro vaskular pada retina dengan gejala
penurunan atau perubahan penglihatan secara perlahan.
15. Retinopati of Prematurity
Retina
adalah selembar tipis yang semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian
dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Penderita ini terjadi akibat
persalinan dng pembedahan , luka pada jaringan bola mata, dapat pula karena
pembesaran pembuluh darah pada mata
C.
Pencegahan
Terjadinya ketunanetraan
Upaya
WHO untuk menghindari kebutaan dapat dilakukan dengan :
a.
Memperkuat
program kesehatan dasar mata
b.
Mengembangkan
pelayanan terapi dan pembedahan ntuk menangani gangguan mata yang dapat
disembuhkan
c.
Mendirikan pusat
pelayanan optik dan pelayanan penyandang tunanetra
Strategi
pencegahan terhadap ketunanetraan:
a. Pencegahan primer, yaitu pencegahan terjangkitnya
penyakit
b. Pencegahan sekunder, yaitu pencegahan timbulnya
komplikasi yg mengancam penglihatan.
c. Pencegahan tersier, yaitu meminimalisir
ketunanetraan
Sepuluh
Strategi utama mencegah ketunanetraan
a. Penggunaan prosedur yang sistematis
b. Pemberian imunisasi
c. Perawatan kehamilan yg tepat
d. Perawatan bayi yg baru lahir
e. Perbaikan gizi
f. Pendidikan kpd masyarakat
g. Penyuluhan genetika
h. Perundang undangan
i.
Deteksi dini
j.
Meningkatkan
higinis dan perawatan kesehatan
Kegiatan Belajar 2
Dampak Ketunanetraan thd kehidupan seseorang
- Proses Penginderaan
Organ pengindraan berfungsi memperoleh informasi
dari luar diproses dalam otak. Semua informasi yang akan diproses diotak
melewati 3 prosesor dalam bentuk:
a. Linguistik
b. Non linguistic
c. Afektif
B.
Latihan Keterampilan
Penginderaan
1.
Indra
Pendengaran
Pengembangan
ketrampilan mendengarkan secara bertahab akan membantu anda sadar pola perilaku tetangga anda dan kegiatan rutin mereka. Jika
dilatih anak tunanetra akan peka bunyi bunyi kecil di dalam rumahnya, seperti
tetesan air, kran bocor dsb
2.
Indra perabaan
Anak tunanetra perlu dikenalkan indera peraba
sehingga ia dapat mengenal berbagai bentuk benda : kancing baju, uang, karpet,
tikar dsb. Dapat juga dibantu dengan tongkat untuk mengetahui sekitarnya: tanah
becek, rumput, got, trotoar dsb.
3.
Indra Penciuman
Latihlah anak
untuk membedakan barang, makanan, minuman dari baunya agar dapat diketahui
barang/benda dihadapannya.
4.
Sisa Indra
Penglihatan
C.
Visualisasi,
Ingatan Kinestetik, dan Persepsi obyek
a.
Visualisasi
Perlu
dilatih dalam ingatan visualisasi agar
ia dapat mengenal :
1.
Benda
disekelilingnya
2.
Mengingat letak
benda disekelilingnya
3.
Jika masuk ke
ruangan perlu disampaikan gambaran
tentang ruangan itu.
b.
Ingatan
kinestetik
Perlu
dilatih gerakan mengenai jalan belok lurus
dengan tepat tanpa memakai tongkat
c.
Persepsi obyek
Yaitu
kemampuan yang memungkinkan individu tunanetra itu menyadari bahwa suatu benda
hadir disampingnya meskipun tidak memiliki penglihatannya.
D.
Bagaimana
Membantu seorang tunanetra
1. Cara menuntun orang tunanetra
-
Kontak pertama
-
Cara memegang
-
Posisi pegangan
-
Jalan sempit
-
Membuka/menutup
pintu
-
Melewati tangga
-
Melangkahi
lubang
-
Duduk di kursi
-
Naik ke dalam
mobil
2. Cara mengorientasikan
Jika
anda ingin menunjukkan arah kepada seorang tunanetra, tidak bisa sekedar sambil
mengatakan “kesana” atau “kesini” tetapi harus lebih spesifik, misalnya 10
meter kedepan, 5 langkah kekanan dan sebagainya.
Kegiatan Belajar 3
Pendidikan Bagi siswa Tunanetra di sekolah umum
1.
Kebutuhan khusus
pendidikan siswa tunanetra
a.
Perlu mendapat
intervensi efektif agar perkembangan sosial emosi dan akademiknya optimal
b.
Berikan cara
belajar melalui media alternatif menggunakan indera lain
c.
Memerlukan
pengajaran individual
d.
Membutuhkan
ketrampilan khusus serta buku materi dan peralatan khusus
e.
Terbebas dalam
memperoleh info melalui belajar secara insidental
MODUL 5
PENDIDIKAN BAGI
ANAK TUNARUNGU
Anak tuna rungu merupakan anak berkebutuhan khusus
yang memiliki kelainan dalam pendengarannya, sehingga berdampak negatif bagi
perkembangannya.Oleh karena itu perlu mendapatkan layanan pendidikan khusus
pada sekolah khusus, sekolah reguler maupun pendidikan inklusi.
Kegiatan Belajar 1
Definisi, klasifikasi, Penyebab Ketunarunguan
A.
Definisi
1.
Definisi
Tunarungu
Istilah
tunarungu diambil dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya kurang dan rungu
artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila ia tidak mampu mendengar
atau kurang mampu mendengar suara yang pada umumnya ada pada ciri fisik orang
tunarungu.
2.
Klasifikasi
Tunarungu
a.
Anak
tunarungu berdasarkan tingkat kehilangan
pendengaran
1)
Anak tuna rungu
ringan
·
Mengalami kehilangan
pendengaran 27 – 40 db :
·
Mempunyai
kesulitan mendengar bunyi – bunyi yang jauh,
·
Membutuhkan
tempat duduk yang strategis letaknya dan
·
Memerlukan
terapi bicara
2)
tunarungu sedang
·
Mengalami
kehilangan pendengaran 41 – 55 db :
·
Mengerti bahasa
percakapan,
·
Tidak dapat
mengikuti diskusi kelas,
·
Membutuhkan alat
bantu dengar dan terapi bicara
3)
Tunarungu berat
·
Orang yang
mengalami kehilangan pendengaran 56 – 90
db :
·
Hanya bisa
mendengar suara dari jarak yang dekat,
·
Masih punya sisa
pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat bantu
dengar serta dengan cara yang khusus
4)
Tunarungu berat
sekali
·
Mengalami
kehilangan pendengaran >91 db :
·
Mungkin sadar
akan adanya bunyi atau suara dan getaran,
·
Banyak
bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuk proses menerima
informasi
b.
Anak tunarungu
berdasarkan saat terjadinya
1.
Ketunarunguan
prabahasa, Yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi sebelum kemampuan bicara
dan bahasa berkembang
2.
Ketunarunguan
pasca bahasa, Yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi sebelum kemampuan
bicara dan bahasa berkembang
c.
Berdasarkan
letak gangguan pendengaran
1.
Tunarungu tipe
konduktif , Yaitu tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan telinga bagian luar
dan tengah
2.
Tunarungu tipe
sensorineural , Yaitu tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan telinga bagian
dalam serta syaraf pendengaran
3.
Tunarungu tipe
campuran , Yaitu tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan telinga bagian luar
dan tengah dan dalam/syaraf pendengaran
B.
Penyebab
Terjadinya Tunarungu
1.
Penyebab
Terjadinya Tunarungu Tipe Konduktif
a.
Kerusakan pada
telinga luar karena :
·
Tidak terbentuk
telinga bagian luar dari lahir
·
Terjadinya
peradangan pada lubang telinga luar
b.
Kerusakan pada
telinga bagian tengah
Penyebab
: Benturan keras pada telinga karena jatuh, Peradangan/infeksi telingan bag
tengah, Otosclerosis terjadi pertumbuhan tulang pada kaki tulang stapes
2.
Penyebab
tunarungu tipe Sensorineural
a.
Ketunarunguan
disebabkan faktor genetik , Yaitu tunarungu yg disebbkan oleh keturunan dari
orang tua kepada anaknya.
b.
Ketunarunguan
disebabkan faktor non genetik
·
Rubela campak
jerman
·
Ketidaksesuaian
darah ibu dengan anak
·
Meningitis
·
Trauma akustik
C.
Cara Mencegah
Tunarungu
1.
Sebelum nikah
a.
menghindari
pernikahan sedarah
b.
melakukan
pemeriksaan darah dan konseling genetika
2.
Pada saat hamil
a.
Menjaga
kesehatan dan periksa kehamilan
b.
Mengkonsumsi
gizi seimbang
c.
Melakukan
imunisasi anti tetanus
d.
Tidak boleh
minum obat sembarangan
3.
Pada saat
melahirkan
a.
Tidak
menggunakan alat penyedot
b.
Jika ibu ada
virus pada vagina maka lahirkan dng caesar
4.
Pada saat
setelah melahirkan
a.
Melakukan
imunisasi, jika anak flu berobat jangan kelamaan
b.
Menjaga telinga
dari kebisingan
D.
Definisi
Gangguan Komunikasi
a.
Definisi
Gangguan Komunikasi :
Yaitu
gangguan yang dialami seseorang dalam penyampaian informasi baik melalui
verbal,non verbal, tekanan, intonasi, kualitas suara dsb.
E.
Klasifikasi
1.
Gangguan Bicara (Gangguan
artikulasi, Distorsi, Audisi)
2.
Gangguan
Kelancaran (Gagap , Clutering (bicara terlalu cepat))
3.
Gangguan Suara (Kelainan
kualitas suara , Kelainan pada titi nada suara , Kelainan intensitas suara,
Fleksibelitas suara)
F.
Penyebab
Gangguan Komunikasi
Kehilangan pendengaran , Kelainan organ Bicara , Gagguan
emosi , Keterlambatan perkembangan , Mental Retardasi , Kerusakan otak , Lingkungan
Kegiatan Belajar 2
Dampak Tunarungu dan Gangguan Komunikasi bagi Anak
A. Dampak Tunarungu Bagi Anak
1.
Dampak Tunarungu
terhadap perkembangan bicara dan bahasa
Kemampuan
berbicara dan berbahasa diperoleh melalui proses peniruan bunyi-bunyi bahasa.
Kemampuan berbicara tersebut diperoleh melalui tahapan-tahapan tertentu,
tahapan normal ( Robert M. Smith, & John T. Neiswork) tersebut adalah
sebagai berikut :
a.
Fase Reflexive Vocalization ( 0 – 6 bulan)
b.
Fase babbling/vocal play ( 6 minggu 6 bulan)
c.
Fase lalling (6 – 9 bulan)
d.
Fase echolalic (9 – 12 bulan)
e.
Fase true speech ( 12 -18 bulan)
Kesulitan
berkomunikasi yang dialami anak tunarungu, mengakibatkan mereka memiliki
kosakata yang terbatas, sulit mengartikan ungkapan bahasa yang mengandung
kiasan, kata-kata abstrak, serta kurang menguasai irama dan gaya bahasa.
2.
Dampak tunarungu
terhadap kemampuan akdemis
Perkembangan
kecerdasan anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan mereka yang mendengar.
Disamping itu , bahasa merupakan kunci masuknya berbagai ilmu pengetahuan
sehingga keterbatasan dalam kemampuan berbahasa menghambat anak tunarungu untuk
memahami berbagai pengetahuan lainnya.
Anak tunarungu
cenderung memiliki prestasi akdemik yang rendah, disbanding anak yang mendengar
seusianya pada mata pelajaran yang bersifat verbal seperti Bahasa Indonesia,
IPA, IPS PKn, Matematika dan seni rupa.
3.
Dampak tunarungu
terhadap kemampuan Sosial-Emosional
Pada umumnya,
keluarga yang mempunyai anak tunarungu mengalami banyak kesulitan untuk
melibatkan anak tersebut dalam keadaan dan kejadian sehari-hari agar ia tahu
dan mengerti apa yang terjadi dilingkungannya. Apabila keluarga memberikan
perhatian dan dukungan yang penuh serta melaksanakan intervensi dini, anak
tunarungu dapat lebih menyesaikan diri dengan lingkungannya. Sikap yang
dimaksud adalah :
a.
Pergaulan yang
terbatas pada sesame tunarungu
b.
Memliki sifat
egosentris yang melebihi anak normal
c.
Memiliki
perasaan takut
d.
Perhatian anak
tunarungu sulit dialihkan
e.
Memiliki sifat
polos
4.
Dampak tunarungu
terhadap Aspek fisik dan kesehatan
Pada aspek
fisik, anak tunarungu tidak banyak mengalami hambatan. Namun pada sebagian
tunarungu ada pula yang mengalami gangguan keseimbangan sehingga cara
berjalannya kaku dan agak membungkuk.
Pada aspek
kesehatan, umumnya anak tunarungu dapat merawat diri sendiri.
B. Dampak Gangguan Komunikasi Bagi Anak
1.
Hambatan dalam berinteraksi
sosial
Seorang anak
yang mengalami hambatan/gangguan dalam kemampuan berkomunikasi, akan mengalami
hambata dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
2.
Hambatan dalam
perkembangan kemampuan akademik
Ilmu pengetahuan
disampaikan melalui bahasa, sehingga untuk memahami pengetahuan tersebut,
seseorang harus memahami bahasa terlebih dahulu. Gangguan dalam kemampuan
berbahasa dapat menghambat seseorang dalam mengembangkan kemampuan akademiknya.
Kegiatan Belajar 3
Kebutuhan Khusus dan Profil Pendidikan Anak
Tunarungu dan Anak dengan Gangguan Komunikasi
A. Kebutuhan Khusus Anak Tunarungu dan Anak dengan
Gangguan Komunikasi
1.
Kebutuhan Khusus
Anak Tunarungu
Masalah utama
akibat ketunarunguan bukan terletak pada ketidskmampuannya berbicara sebagai
sarana komunikasi lisan, melainkan terhambatnya kemampuan berbahasa secara
keseluruhan.oleh karena itu anak tunarungu membutuhkan layanan untuk
mengembangkan kemampuan kebahasaannya, melalui layanan Bina Komunikasi Persepsi
Bunyi dan Irama (BKPBI) adalah layanan khusus yang merupakan suatu kesatuan
antara pembinaan komunikasi dan optimalisasi sisa pengendaran untuk mempersepsi
bunyi dan irama.
2.
Kebutuhan Khusus
Anak dengan Gangguan Komunikasi
a.
Kebutuhan khusus
anak dengan gangguan artikulasi
b.
Kebutuhan khusus
anak gagap
c.
Kebutuhan khusus
anak yang mengalami keterlambatan dalam komunikasi verbal
d.
Kebutuhan khusus
anak dengan gangguan komunikasi karena autis
B. Profil Pendidikan Khusus Bagi Anak Tunarungu
1.
Sistem
pendidikan bagi anak tunarngu
a.
System
pendidikan segregasi
1)
Sekolah khusus
2)
Sekolah dasar
luar biasa (SDLB)
3)
Kelas jauh/kelas
kunjung
b.
System integrasi
c.
System
pendidikan inklusif
2.
Metode
komunikasi
a.
Metode
oral-aural
b.
Metode manual
(isyarat)
3.
Prinsip-prinsip
pembelajaran siswa tuna rungu
a.
Apabila anda
sedang memberikan penjelasan kepada siswa, hendaknya posisi anda selalu
berhadapan dengan siswa (face to face)
b.
Siswa tunarungu
ditempatkan di bagian depan untuk mempermudah siswa membaca ujaran guru
c.
Guru harus
berbicara dengan tenang tidak boleh terlalu cepat
4.
Strategi
Pembelajaran
a.
Strategi
individualisasi
b.
Strategi
kooperatif
c.
Strategi
modifikasi perilaku
5.
Media
pembelajaran
Media visual
yang dapat digunakan antara lain gambar, grafik, realita, model atau tiruan,
slides.
Media audio yang
dapat digunakan antara lain anata lain seperti program kaset suara seperti
membedakan suara binatang.
6.
Fasilitas
pendukung
Adanya sumber
yang dilengkapi dengan berbagai media, seperti mengembangkan layanan kemampuan
berkomunikasi oral.
7.
Penilaian
(assessment)
Penilaian
terhadap anak tunarungu dapat dilakukan dengan cara tes, pengamatan, pemberian
tugas, wawancara, portofolio,
C. Profil Pendidikan Anak Dengan Gangguan Komunikasi
Pendidikan untuk anak dengan gangguan komunikasi
tergantung jenis gangguan komunikasi dan hambatan lain yang dialami anak
tersebut, karena banyak gangguan komunikasi yang merupakan hambatan utama yang
dialami anak. Mereka memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan hambatan
utamanya serta layanan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasinya.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus (dulu di sebut sebagai
anak luar biasa) di definisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan
layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna.
Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus, dikarenakan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan,
layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan
lainnya yang bersifat khusus.
Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, terdapat tiga
hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu penguatan kondisi mental orang
tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dukungan sosial yang kuat dari
tetangga dan lingkungan sekitar anak berkebutuhan khusus tersebut, dan yang
terakhir adalah peran aktif pemerintah dalam menjadikan pelayanan kesehatan dan
konsultasi bagi anak berkebutuhan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Wardani, IGAK .
2016 . Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus . Tangerang .
Universitas
Terbuka
Online

Terimakasih, sangat membantu
BalasHapusSMART
BalasHapusMANTAP
BalasHapusSlot Machine Games in California - Jtm Hub
BalasHapusSlot Machine Games 태백 출장샵 in California - Jtm 제주도 출장샵 Hub, where you can find all 서울특별 출장마사지 the info you need 논산 출장안마 about game machines. Enjoy Free bet365 Slot Machine Games, Win Real Cash